Lompat ke isi utama

Berita

Maulana Rizki Fauzi Ajak Mahasiswa Aktif Awasi dan Laporkan Politik Uang

Maulana Rizki Fauzi Ajak Mahasiswa Aktif Awasi dan Laporkan Politik Uang

Maulana Rizki Fauzi Ajak Mahasiswa Aktif Awasi dan Laporkan Politik Uang

Pringsewu – Presiden Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Pringsewu, Maulana Rizki Fauzi, mengajak mahasiswa untuk berperan aktif dalam mengawasi dugaan politik uang dengan mengumpulkan informasi dan bukti secara aman, mencatat kronologi kejadian, serta melaporkannya melalui mekanisme yang berlaku. Ajakan tersebut disampaikan saat menjadi narasumber dalam kegiatan Behasan Demokrasi Episode 1 bertema “Gen Z dan Politik Uang: Masihkah Suara Rakyat Bisa Dibeli?” yang digelar melalui Zoom Meeting, Kamis (15/10/2026).

 

Dalam pemaparannya, Maulana menekankan bahwa mahasiswa perlu memahami langkah yang tepat ketika menemukan dugaan praktik politik uang di lapangan. Menurutnya, pengawasan harus dilakukan secara tenang, terukur, dan sesuai ketentuan hukum. Mahasiswa diimbau tidak melakukan tindakan gegabah, kekerasan, ataupun main hakim sendiri terhadap pihak yang diduga terlibat.

 

Ia menjelaskan bahwa tindakan konfrontatif justru dapat menimbulkan persoalan baru dan mengalihkan perhatian dari dugaan pelanggaran yang hendak ditangani. Karena itu, mahasiswa perlu mengutamakan keselamatan diri, menjaga situasi tetap kondusif, serta menyerahkan penanganan dugaan pelanggaran kepada pihak berwenang.

 

Maulana juga menyoroti pentingnya dokumentasi dan pencatatan informasi ketika menemukan dugaan politik uang. Informasi yang dapat dicatat antara lain waktu dan lokasi kejadian, identitas pihak yang diketahui terlibat, serta kronologi peristiwa. Foto, video, atau bukti lain dapat dikumpulkan apabila memungkinkan dilakukan dengan aman dan tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

 

Informasi tersebut selanjutnya dapat disampaikan kepada Bawaslu melalui mekanisme pelaporan yang berlaku agar dapat ditelaah sesuai ketentuan. Ia mengingatkan bahwa dokumentasi perlu dilakukan secara etis dan tidak disertai tindakan yang melanggar hukum atau penyebaran tuduhan yang belum terverifikasi.

 

Lebih lanjut, Maulana menegaskan bahwa organisasi mahasiswa, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan himpunan mahasiswa, memiliki peran penting dalam membangun kesadaran politik yang berintegritas. Upaya tersebut, menurutnya, perlu dilakukan secara berkelanjutan dan tidak hanya menjelang pelaksanaan pemilu.

 

Di lingkungan kampus, mahasiswa dapat mengadakan diskusi rutin mengenai demokrasi, gagasan calon pemimpin, rekam jejak, serta dampak politik uang. Ruang diskusi dapat dibangun melalui kegiatan organisasi, forum mahasiswa, maupun percakapan sehari-hari agar pendidikan politik menjadi bagian dari kehidupan kampus.

 

Ia juga mengajak organisasi mahasiswa menerapkan nilai integritas dalam kegiatan internal, termasuk pemilihan ketua organisasi. Menurutnya, praktik demokrasi yang sehat perlu dimulai dari lingkungan terdekat sehingga mahasiswa dapat menjadi contoh dalam menerapkan proses pemilihan yang jujur dan bebas dari transaksi politik.

 

Sementara itu, di luar kampus, mahasiswa dapat memanfaatkan kegiatan pengabdian masyarakat, seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan bakti sosial, untuk memberikan edukasi politik kepada masyarakat. Pendidikan tersebut perlu disampaikan dengan bahasa yang sederhana, santun, dan sesuai dengan kondisi masyarakat setempat agar pesan mengenai bahaya politik uang dapat dipahami dengan baik.

 

Maulana turut menyoroti peran media sosial dalam membentuk pandangan generasi muda terhadap politik. Ia mengajak mahasiswa dan kreator konten untuk tidak menormalisasi praktik politik uang melalui konten yang menggambarkan pemberian uang menjelang pemungutan suara sebagai sesuatu yang lumrah atau patut dinantikan.

 

Sebaliknya, media sosial dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan konten edukasi yang kreatif, mudah dipahami, dan mendorong masyarakat lebih kritis dalam menentukan pilihan. Menurutnya, pesan ant politik uang perlu disampaikan secara konsisten agar generasi muda memahami bahwa hak pilih tidak seharusnya ditukar dengan keuntungan sesaat.

 

Ia juga mengkritisi slogan “Terima uangnya, jangan pilih orangnya” karena dinilai tetap memberi ruang bagi praktik politik uang. Maulana mengajak generasi muda menggantinya dengan prinsip “Tolak suapnya, pilih berdasarkan gagasan!” sebagai ajakan untuk menentukan pilihan berdasarkan program, integritas, dan rekam jejak calon pemimpin.

Kegiatan Behasan Demokrasi Episode 1 menjadi ruang diskusi bagi mahasiswa dan masyarakat untuk membahas tantangan demokrasi, khususnya politik uang dan peran generasi muda dalam pengawasan pemilu. Kegiatan ini menghadirkan perwakilan Aliansi BEM Pringsewu (ABP), yaitu Husein Fadhilah dari Universitas Aisyah Pringsewu, M. Fadhil Al-Hadi dari Institut Bakti Nusantara Pringsewu, Maulana Rizki Fauzi dari Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Pringsewu, serta Novryanda Aidil Fitra dari Universitas Muhammadiyah Pringsewu.

 

Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa dan generasi muda semakin memahami cara menyikapi dugaan politik uang secara tepat, berani menyampaikan informasi melalui jalur resmi, serta aktif membangun pendidikan politik di kampus maupun masyarakat. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pengawasan partisipatif dan menjaga integritas demokrasi.

 

Suara rakyat bukan komoditas untuk diperjualbelikan. Mahasiswa tidak cukup menjadi penonton, tetapi dapat mengambil peran dalam mengawal demokrasi melalui tindakan yang kritis, bertanggung jawab, dan sesuai hukum.

 

 

Penulis dan Foto: Humas Bawaslu Pringsewu

Editor: Humas Bawaslu Pringsewu