BAWASLU PRINGSEWU DAN HMI PODCAST NGODE: HOAX ADALAH RACUN DEMOKRASI
|
Pringsewu, 5 Agustus 2025 – Bawaslu Kabupaten Pringsewu melanjutkan komitmennya dalam edukasi dan pengawasan partisipatif melalui program "Ngobrol Demokrasi" (NgoDe). Di episode terbarunya, Bawaslu Pringsewu mengundang tamu spesial dari kalangan intelektual muda, yaitu Kak Ahmad Jamaludin dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Pringsewu.
Diskusi yang dilaksanakan di studio podcast Bawaslu Pringsewu ini mengangkat topik yang sangat relevan dan mendesak: "Hoaks: Racun Demokrasi".
Hoaks sebagai Ancaman Serius Kepercayaan Publik
Dipandu oleh Siti Umi Kulsum, perbincangan ini menggarisbawahi bahaya laten hoaks, terutama dalam konteks pemilu. Disadari bahwa di era digital, penyebaran hoaks jauh lebih cepat daripada upaya klarifikasi, yang berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap penyelenggara dan hasil demokrasi.
Kak Ahmad Jamaludin dari HMI Pringsewu menegaskan bahwa hoaks bukan sekadar informasi palsu, tetapi merupakan ancaman substansial bagi fondasi demokrasi yang sehat.
"Satu klik, satu share, bisa menjadi bom waktu yang merusak kepercayaan. Jika publik sudah tidak percaya pada kebenaran informasi, maka mereka akan kehilangan kepercayaan pada proses dan hasil pemilu. Di sinilah peran HMI dan Bawaslu menjadi krusial dalam menjaga literasi digital dan kesehatan ruang publik," ujar Ahmad Jamaludin.
Peran Kritis Generasi Muda: Menjadi Agen Verifikasi
Dalam obrolan tersebut, HMI menyoroti pentingnya peran anak muda sebagai agen verifikasi dan bukan sekadar konsumen informasi pasif. HMI Pringsewu menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dengan Bawaslu dalam pengawasan partisipatif, khususnya di ranah digital.
"Generasi muda, termasuk HMI, harus menjadi garda terdepan melawan hoaks. Kami tidak boleh hanya menjadi penonton. Dengan semangat kritis dan idealisme, kami siap ikut andil dalam gerakan pengawasan partisipatif yang didorong Bawaslu," tambah Ahmad Jamaludin.
Pengawasan Partisipatif: Jantung Demokrasi
Bawaslu Pringsewu dan HMI sepakat bahwa pengawasan partisipatif adalah kunci untuk meminimalisir dampak hoaks. Keterlibatan aktif masyarakat, terutama mahasiswa, dapat memperluas jangkauan pengawasan Bawaslu hingga ke media sosial dan kelompok-